Banyak yang bisa dipelajari saat bekerja di daerah atau bidang baru. Bisa memperkaya khasanah hidup, cerita, ilmu pengetahuan dan wawasan. Bidang kerja yang jauh dari bayangan sebelumnya. Dari tempatnya, dari orang-orangnya, dari bahasanya, dari ilmu dan teknologinya, dari suasana dan sebagainya.
Awalnya emang sudah menjadi cita-cita dan mimpi untuk kerja di luar negeri selepas kursus selesai. Walau ilmu kursus nggak dipake untuk saat ini, menurutku bukanlah hal yang merugikan. Pengalaman dan ilmu baru akan didapat kemudian. Toh yang namanya belajar khan nggak ada untung ruginya. Untuk ilmu yang digali bagi kesejahteraan. Bukan ilmu untuk menyengsarakan diri dan orang lain ,ya tho? Bayangkan, sekarang saya mendapat ilmu bagaimana melewati gerbang negara menuju negara lain, bagaimana hidup di masyarakat Arab, bagaimana mengirim uang dari luar negeri, bagaimana mengatur Logistic, bagaimana mengoperasikan software baru, bagaimana naik dan mengendarai alat berat, bagaimana melakukan CPR, bagaimana menggunakan lifejacket, bagaimana berbahasa arab walaupun kadang yang kasar dan jorok kalau diterjemahkan, dan banyak lagi yang bisa dipelajari.
Selain daripada itu banyak pelajaran yang aku dapatkan setelah bekerja di jazirah Arab. Bagaimana mengendalikan diri dari nafsu. Nafsu amarah. Kalau nafsu yang lain nggak dibahas disini ya….
Amarah kadang muncul tiba-tiba disaat kita dihadapkan pada banyak masalah. Dari pengalamanku beberapa bulan di sini, aku banyak menemui masalah terutamanya relasi dengan sesama manusia. Bagaimana nggak sebel dan marah saat mereka mentertawakan kita dan mengeluarkan kata-kata yang tak semestinya diucapkan kepada sesama muslim. Apalagi yang membuat aku tak habis pikir adalah mereka mengaku muslim, dari dataran Arab lagi, kok bisa-bisanya berkata-kata kotor seperti itu? Disaat badan keringetan, capek, bukannya bantuin malah ngomong yang nggak-nggak. Ada juga orang-orang dari negara yang sekarang negerinya sedang perang (inisial negaranya P) yang mau dimintain tolong kalo ada uang atau minuman buat dia. Apa nggak gila? Mungkin kebiasaan yang membuat seperti itu. Mafi sabar mafi zen. Nggak sabar nggak bagus. Adat dan budaya berbeda yang kadang kala menjadikan gesekan. Memang terbukti, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudi pekerti tinggi. Mana ada orang pegang-pegang kepala orang? Kalo dia orang tua kita atau orang yang kita tuakan ya nggak apa-apa. Kalo bukan?
To be continued.
Powered by P1i




