Bekerja di luar negeri, salah satu modalnya adalah kemampuan berbahasa. Terutama sekali adalah bahasa Inggris. Apalagi bila kita dibidang yang menuntut banyak berkomunikasi dengan orang luar atau asing. Namun musti dilihat di negara mana kita berada, karena nggak semua orang bisa berbahasa Inggris. Kecuali kita bekerja di Inggris, America, Canada, Australia atau di negara yang bahasa ibunya adalah English. Bila di negara-negara tersebut, mungkin bahasa Inggris kita nilainya hanya 5.
Sialnya apabila kita di Jazeera Arabia. Banyak orang Arab yang nggak paham bahasa Inggris. Mungkin dibawah 10% yang paham bahasa Inggris. Kita yang bahasa Inggris-nya pas-pasan bisa-bisa menjadi paling pinter.
Pengalaman kerja di Arab, bukannya bahasa Inggris kita tambah jago tapi malah jadi rusak. Karena percuma aja berbuih-buih nyerocos, sementara lawan bicara kita nggak ngerti. Ujung-ujungnya pake bahasa tarzan dan peragaan tubuh.
Terpaksa memperkaya imajinasi untuk memperagakan suatu benda, sifat, atau pekerjaan. Disamping itu memperkaya kosa kata bahasa setempat untuk mempermudah berkomunikasi dengan mereka. Selain masalah bahasa, ada masalah juga dengan logat. Apabila berhadapan langsung mungkin kita bisa memperhatikan bahasa gerak tubuh. Namun yang sering saya alami adalah via telephone. Susah bener mengartikan bahasa inggris logat asia barat (arab, india). Namun lambat laun kendala teratasi dengan adaptasi. Bukan mereka yang belajar, tapi kita yang belajar mengerti bahasa mereka.





Pak Bud..gmn kbr?awas tambah birong n punya facebook tak
Menik yo? Piye khabare? FB ada. Alamat emailku ngerti tho? Wis rabi durung? Birong rak kulite, sing penting njerone.
Aq ga ngerti alamat emailnya,drg nunggu dudamu ha..ha..ha…i love u full,jerone apa?